header-makeup-lebay

Hari gini semua orang sudah pake makeup, terlepas dari biner gender atau apalah itu namanya aku ga tau cara njabarinnya. Pada dasarnya, makeup itu sendiri bebas dari yang namanya bias gender, people paint themselves with several products on their face and create distinctive self actualization. Bahkan dari zaman bahula, makeup atau riasan wajah tidak terbatas hanya untuk kaum hawa atau kaum bermeki (karena ga semua yang ngaku perempuan itu punya meki dan sebaliknya, apabila  kata perempuan di sini konteksnya adalah genderMakeup digunakan untuk status sosial, penanda strata, dan apapun yang sifatnya lebih kepada self actualization daripada sekedar dekorasi, apalagi sebagai topeng untuk menutupi semua kebusukanmu wahai manusia laknat khu khu khu. Halah lebay.

Apalagi kalo kamu doyan cosplay, rasanya tanpa makeupcosplay adalah hil yang mustahal untuk dilakukan. Sekalipun wajahmu sudah 11:12 sama karakter yang ntar kamu cosplay-in. Belom lagi buat kamu yang anak teater, makeup  udah jadi makan sehari – hari, ga laki ga perempuan ga transgender ga interseks semua wajib merias diri sebelom manggung. Sampe ada yang alergi pake makeup pas manggung dan menganggap pake makeup itu kaya banci, sini aku tantang kamu buat adu jotos sama banci beneran di perempatan. Kelar idupmu bos, dikira banci lemah apa, ngawur. Aku ga yakin lu yang merasa laki tulen dan memandang rendah makhluk diluar jenismu bisa selamet ga babak belur pas berantem sama banci. Heh, dasar. Oke, ini rada nyindir ceritanya wekwekwek.

Sekarang prodak kosmetik beragam. Yang import maupun lokal semua lagi bersaing sengit demi meraup laba. Bahkan industri kosmetik lower class mulai ngikut tren nih, yakali jaman susah nyari duit gini ga ikut tren ntar makan apa mereka? Macem – macem dah sekarang prodak kosmetik yang dijual di pasaran. Kadang strategi dagang mereka rada licik gitu, bikin prodak berbahan dasar bubuk (baca: powder) yang fungsinya sama tetapi dengan memainkan nama untuk si prodak, akhirnya lahirlah sesuatu yang berbeda, contohnya contour powder yang setahuku masih bisa dipake buat yang lain – lain  juga misalnya dipake di mata, pokoknya selama itu kulit, masih bisa lah itu contour powder dipake di jidat. Nah gini kan kalo yang ga paham soal bahan dasar kosmetik bisa ketipu, ntar kaya gini jadinya:

“eh aku pengen bet beli contour palette tapi kok mehong ya?”

“kau punya eyeshadow palette nude kan?”

“Iyak”

“yaudah ngapain beli contour palette mahal – mahal, orang sama sama powder, jidat lu aja bisa ditempelin itu contour powder

Hadeh.

Ga cuma ketipu prodak kosmetik, agaknya orang – orang Indonesia dan sebagian dari penduduk dunia sering ketipu dengan TREN MAKEUPApa yang lagi hits terutama di sosmed macam nistagarem, cocok atau enggak, diikutin aja. Yawla. Kurangnya minat baca juga mempengaruhi pengetahuan mereka soal makeup. Masalahnya gini, ga semua yang lagi tren itu adalah yang fundamental dalam bidang rias merias. Ga semua smokey eyes yang dipraktekin beauty blogger atau self proclaimed MUA itu beneran smokey eyes  yang secara fundamental emang smokey eyes. Gampangannya, ga semua smokey eyes itu smokey eyes standar seluruh dunia. Mudeng ga? Baca aja deh buku soal rias merias, kujamin yang kalian liat di sosmed pasti bakal kaya WTF SELAMA INI GUWAH DITIPU. Yaqeen dah. Perbanyak baca soal rias merias, tapi baca dari sumber yang clarified lho ya, jangan baca konten beauty blogger atau self-proclaimed MUA, sesat bos, isinya opini semua. Baca tuh buku yang ditulis sama MUA beneran, kaya Lisa Eldridge, Bobbi Brown, Puspita Martha kalo yang lokal. Jangan beauty blogger atau beauty guru apalagi self-proclaimed MUA. Ga ada salahnya buat ngeliat konten dari beauty blogger dan sejenisnya, kalo cuma sekedar cari inspirasi atau bahan perbandingan. Tapi, kalo belajar mulai dari nol lewat konten beauty blogger, yah sayang banget, kemakan tren akhirnya yang ada di otakmu. Fundamental rias merias kamu bakal NOL.

Gegara problem kurangnya minat baca sehinga sangatlah mudah terjerembab tren rias merias, akhirnya selera pasar di Indonesia terkait makeup juga harus ikut tren. Parahnya, tren yang beredar, bener – bener ujubile. Aku gatau, ini di Indonesia doang atau gimana tapi seingetku kalo orang Eropa pas nikahan tuh riasan mereka ga lebay dan merubah wajah kaya riasan orang sini terutama di 5 tahun terakhir ini. Ga perlu kujabarin dah, gaya makeup manten orang Indonesia kebanyakan tuh, alis tebel lebay ga naturalfoundation 10 warna lebih terang dari kulit asli, lensa kontak, bulu mata tebel setebel sapu taman, dan gincu terang yang ga semua orang cocok pake. Oh my lordseriously ppl? Kalo yang pernah kubaca, gaya makeup demikian itu aslinya diadaptasi dari makeup dragshow. Apa itu dragshow? Semacam acara hiburan malam dimana biasanya performer berjenis kelamin laki – laki dan melakukan genderbending. Diperlukan riasan super tebal agar ketika melakukan penampilan di atas panggung, mereka terlihat wah dan menyamarkan fitur – fitur wajah maskulin. But in this case, they are entertainer, they perform art, dan Dragshow adalah sebuah identitas dimana mereka memang harus berias seperti demikian agar tercapailah tujuan utama dari Dragshow itu sendiri. Tapi kalau teknik merias dragshow diadaptasi untuk merias pengantin? Man, that’s atrocious.

Sejelek – jeleknya muka orang pas menikah, ngerubah muka natural mereka menjadi muka yang lain, itu tindakan kriminal. Dalam konteks wedding makeup, pengantin baik yang laki atau perempuan diharapkan untuk tampil flawless, which means in my opinion, enhancing what you are already had. Sampe ada laki yang gamau pake makeup pas acara nikahannya, berati dia seksis parah, jangan mau dinikahin sama laki kaya gitu, haha, nyindir lagi ini ceritanya. Oke bro, yang bener – bener salah menurutku adalah, kenapa kalian terutama cewe – cewe pengantin mengganti warna kulit kalian yang memang aslinya sudah demikian dari rahim ibu? Kubilang, di Indonesia, whitewashing sangat kuat. Disinyalir efek dijajah Belanda hampir 3 abad (bngzt lu) dimana noni – noni mevrouw  Belanda berkulit putih bak porselen, dan secara kasta pada waktu itu diatas pribumi. Sehingga muncul stigma bahwa YANG CANTIK YANG PUTIH DAN YANG BERKULIT GELAP ITU JELEK DAN RENDAHAN. qntl bro. Liat aja tuh, ciwi – ciwi ayongaseyo yang kulitnya sawo pada pengen punya kulit kaya artis Korea yang cerah – cerah. Bleh. Kalo dasarnya emang sudah tan, kenapa harus dicerahin? Kamu bukan monitor LCD  yang bisa digelap – terangin. Aku yakin sebagian besar orang Indonesia masih menganggap orang yang berkulit gelap itu jelek dan rendah. Kok bisa? Ya soalnya yang njajah kita orang Belanda sih. Coba kalo yang jajah orang Nigeria atau Uganda. Bisa jadi yang putih jadi jejemuran tiap siang bolong biar kulit jadi gelap. Apapun, merubah kulit asli demi menjadi cantik itu ga bener. Kecuali merubah warna kulit untuk keperluan panggung, beda lagi mah ceritanya.

Ada tuh, self-proclaimed MUA  yang digandrungi karena KEMAMPUANNYA MENGUBAH WAJAH KLIEN. Serius, klien doi kebanyakan cewe – cewe kulit gelap yang insecure sama warna asli kulit mereka. Miris kadang ngeliatnya. Pasalnya yang dilakukan dia ke klien itu ga bener. Sudah warna kulit diganti 10x lebih terang, pake lensa kontak warna biru/ijo/abu lagi, lu mau jadi noni Belanda apa? Udah gitu ada foto before – after, yang before kucel bet yang after ga kalah ngeri. Heran lagi, gitu lebih banyak yang komentar, “Aduh cantiknya, manglingi banget deh” “Hebat memang, luar biasa, dari kucel bisa cantik banget” “Keren kak makeupnya”

Buset bro, yang kalian lihat adalah pembohongan. Congrats! You’ve been scammed by a local self-proclaimed makeup artist. Anehnya yang ngebelain orang macem dia lebih banyak daripada yang kontra sama dia. Parah kan? Bahwa standar kecantikan Indonesia sekarang itu yang menyerupai ras kaukasoid (baca: Bule). SRLSY, you guys are ruthless. Cobalah kalian tengok Anggun C Sasmi, kurang cantik apa dia? Kurang seksi apa dia dengan kulit tan? Tara Basro juga, kurang eksotik apa doi? Ah kamu sih, kiblat kecantikannya Korsel, ya rempong bosqu. Lebih miris lagi, gaya makeup semacam ini ga cuma dilakukan oleh si self-proclaimed MUA tadi, tapi hampir 80% bahkan 90% MUA  di Indonesia. Pengen nangis ngeliatnya.

Kadang ga paham aku sama pola pikir orang sini, menganggap yang cantik itu yang palsu,  yang bedakannya tebel terus warna leher sama muka beda jauh kaya dari Surabaya ke Jakarta naik andong. Ugh setop dong bos. Ya ga salah kalo kebanyakan orang Indo insecure  sama dirinya sendiri, dalam kasus ini adalah bentuk fisik wajah. Ketika efek whitewashing 3 abad oleh Belanda masih dibudayakan hingga kini. Miris bro.

Don’t blame your president if the fact it’s you whom take control the culture of your nation. Budaya ada karena ada pendukungnya, kalo pendukung whitewashing ilang, ya ga akan ada lagi makeup lebay yang ngerubah muka biar kaya bule atau ciwi – ciwi Koreya. Fuck whitewashing dah!

Advertisements

BACOT: Makeup Lebay

Comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s